Senin, 23 September 2013

Tentang Menunggu

MENUNGGU ITU NGGAK ENAK

Yup, sesuai dengan pernyataan yang gue nyatakan dengan lantang tersebut *contoh kalimat tidak efektif, hehe* , menunggu itu adalah hal yang paling tidak enak sedunia.

Kenapa bisa nggak enak?
Ya nggak enak pasti lah!
Karena saat menunggu itu kita berada dalam kondisi gamang. Antara pasti-tidak pasti, antara iya-tidak, antara selesai-belum, antara sukses-gagal, dan berbagai antara yang lain.

Sebagai manusia, kita membutuhkan yang namanya kepastian. Kalau dalam hierarki kebutuhan Maslow, kepastian ini masuk dalam kebutuhan akan rasa aman. Kebutuhan tersebut berada di posisi kedua setelah kebutuhan dasar (makan, minum, tidur) yang berarti tergolong penting-mendesak untuk dipenuhi.

Berada dalam ketidakpastian itu rasanya sesuatuk! Penuh dengan rasa bimbang, khawatir, gelisah, gundah gulana, dan selalu timbul kontroversi hati #korbanvickinisasi

bener nggak? bener kan! bener dong!

Mau menunggu hal yang menyenangkan atau nggak menyenangkan, rasanya sama! Pasti nggak tenang! Dan semakin lama waktu menunggu, makin intens pula rasa nggak tenangnya.

terus kenapa jadi bahas tentang nunggu sih, mon?

Karena saat ini gue juga masih nunggu, huhuhu... Menunggu suatu keputusan yang berpengaruh cukup besar dalam kehidupan gue. Masih kok, masih tentang lumutan nunggu dosen pembimbing gue! #alibi :P

kasih tau nggak yaaaa.... mau tau banget atau mau tau aje *kayak ada yg pengen tau* 

Baru aja gue dapat WA dari temen kuliah yg ngeluh kalo maagnya kambuhan selama periode nesis inih. Usut punya usut, ternyata si teman ini tak kunjung mendapatkan ijin dari instansi incerannya untuk ngambil data (seakan nggak cukup ya punya pembimbing yg hobinya bikin duduk lumutan depan kantor dan lari-lari mulu *curcol*). Stres lah si teman dan dampaknya ya kena lah lambungnya. Terselip ucapan, "kalo nggak dapat ijin ya udah, bilang aja dari awal" tapi ujung-ujungnya akan selalu muncul, "menurut kamu gimana?"

Padahal kalo mau mikir ya, udah 3 bulan'je doi nggak dikasih kejelasan boleh ambil data atau nggak. Kalo katanya orang sih, kayaknya itu penolakan nggak langsung. Kenapa juga nggak cari tempat lain ya kan?

KARENA MASIH NGAREP! Itulah alasannya!

Saat berada dalam posisi menunggu, kita berada dalam kondisi iya atau nggak. Saat itulah harapan yang paling mendominasi. Kita jadi bertanya-tanya apakah iya? apakah nggak? kalo nanti ditinggal malah iya gimana? kalo nanti udah ditungguin, ternyata nggak gimana? Harapan itu yang membuat kita terus menerka-nerka akhirnya akan seperti apa. Menerka itu menandakan kita nggak punya kontrol akan situasi tersebut. Padahal kontrol itulah yang membuat kita merasa aman. Tidak punya kontrol akan situasi dapat menimbulkan rasa rentan, lemah, nggak berdaya, dan bisa juga membuat kita merasa nggak oke dengan diri kita sendiri.

(Tiba-tiba ingat sesi ngobrol-ngobrol dengan beberapa napi saat jadi relawan di Cebongan dulu. Banyak sekali napi yang belum disidang yang susah tidur karena gelisah menunggu vonis. Ah, apa kabar mereka ya? Apakah penantian panjang tak bertepi mereka akhirnya menemukan ujungnya?)

Menunggu itu emang nggak enak, tapi nggak mungkin kan kita nggak nunggu apapun?


Iya iya, memang menunggu itu nggak enak, dan mustahil juga kita nggak nunggu. Banyak hal di dunia ini yang menuntut kita untuk menunggu. Lalu gimana? Ya, sabar.  Cuma itu satu-satunya hal yang bisa dilakukan selama menunggu.

Dan sabar itu membutuhkan keyakinan yang sangat besar. Semakin yakin, akan semakin sabar :)
(Sabar tingkat dewa bagai lagu "walau ke ujung dunia, pasti akan kutunggu.. walau ke ujung samudera, pasti akan kunanti" )

Ragu-ragu itu manusiawi. Keyakinan itu pun layaknya iman. Ada waktu di mana dia sangat tinggi kadarnya, namun juga ada saatnya terjun bebas. Butuh keyakinan yang senantiasa terjaga untuk mampu sabar menunggu.

Menurut gue, saat seseorang sedang berada dalam kondisi gelisah menunggu, sebenarnya orang tersebut sudah ada tendensi mau lanjut atau nggak. Pasti sudah ada kok timbangan pro dan kontra yang muncul dalam kepalanya. Sebenarnya orang tersebut hanya butuh penegasan untuk menguatkan keyakinan dan keputusan, yang secara sadar atau nggak, sudah diambilnya. Entah keputusan apa yang diambil, itu urusan lain ya.

Jadi kalau ada yang lagi bimbang, mungkin bisa ditanyain balik, "is it worth to wait?"


*catatan untuk diri sendiri : yakin itu nggak ada hubungannya dengan waktu, jarak, godaan, atau apapun, Saat dirimu memutuskan untuk yakin, yakinlah dengan segenap hatimu" :')

 lebih banyak gue curhatnya ini mah yak! (bodo amat, blog juga blog gue :P


Tidak ada komentar:

Posting Komentar