Rabu, 25 September 2013

Ngambang

"Sebenarnya gue pengennya yang lain... Tapi ya udah, males ribut-ribut lagi... Cuma ya gitu, gue jadi banyak alesan"
"Lo ngehindar doang kan"
(Depan perpus psikologi UI, 25/09/2013)



Sesiangan ini, di depan perpustakaan Psikologi UI, duduk lah dua orang gadis. Salah seorang gadis berwajah paling manis yang tentunya adalah gue bersama seorang teman seangkatan yang bernama C_ _ E (apanya sih ini yang disamarkan) menghabiskan waktu berbincang tentang makna hidup #meh sepanjang hari ini (padahal niatnya mah pelatihan untuk jadi terapis gue, tapi malah lebih banyakan ngobrolnya dibanding transfer ilmunya :P)

Temen gue ini lagi ngerasa hidupnya ngambang. Aimless. Meaningless. Puless (saking ademnya gegoleran depan perpus :D). Ada konflik antara dia dengan keluarganya yang akhirnya selesai gitu aja setelah dia memilih ngalah. Sebenarnya mah nggak selesai, karena setelah menjalankan titah keluarganya, dia nggak merasa bermakna. Hampa aja gitu. Berasa ngambang. Cuma berayun-ayun ke sana ke mari tanpa tujuan.

Cuma ya itu, males ribut-ribut. Jadi ya udah deh.

Semua orang pasti kenal yang namanya menghindar (dan pasti semua pernah melakukannya)
Menghindar itu dikenal dengan berbagai istilah, mulai dari avoidance, prokastinasi, nunggu mood, dll

Semua orang juga tau kalo menghindar itu mendatangkan masalah

Tapi kok masih banyak yang hobi menghindar?

HABIIIISSSS..... MENGHINDAR ITU ENAK SIH!!!

(Suwer deh, menghindar itu adalah hal paling enak sedunia!!!)


Enakan juga tidur dibanding ngereview jurnal
Enakan juga nonton tv series dibanding ngerjain revisi
Enakan juga ngeles dibanding ngerjain tugas
Enakan juga jalan-jalan dibanding nungguin dosen
Enakan juga ngalah dibanding konfrontasi
Enakan juga kabur dibanding jujur
Enakan juga ngambang dibanding berenang
(Bener kan enak! Enak banget malah!)


Menghindar itu kegiatan paling enak sedunia. Nggak capek, seneng, nggak ribet, terus juga hasilnya instan. Eeeehhh... masih nggak percaya menghindar itu enak?? Coba deh liat perbandingan di bawah ini

TIDUR :
1. Naik ke kasur
2. Peluk guling
3. Merem
HASIL : badan segar, wajah berseri, bahkan bisa mimpi indah ketemu Siwon #ngek

REVIEW JURNAL
1. Buka laptop
2. Cari dulu jurnal yang udah didonlot disimpen di mana
3. Mulai membaca
4. Buka kamus kalo ada kata yang nggak dimengerti
5. Mencoba memahami isinya
6. Mulai ngetik review
7. Baca lagi karena belum ngerti
8. Ketik lagi
9. Edit, edit, edit
10. Save as
11. Ngeprint (kalo disuruh ngumpulin)
HASIL : pusing, mual, kurang tidur, kelaperan, jengkel, pengen makan orang, asam lambung meningkat, penampilan tak elok karena dahi keseringan mengernyit dan jilbab/rambut berantakan berulang kali garuk-garuk kepala, batal kencan sama Siwon

TUH, KURANG ENAK APA COBA???

Kurang enak efek setelahnya. Apa hayo efek setelahnya? Yup bener! GUILTY!

Biasanya setelah menghindar itu (apapun bentuknya) akan muncul rasa bersalah dan mulai deh mengutuki diri karena nggak produktif, lemah godaan, terlalu santai, beserta janji, kebulatan tekad, dan niat besar untuk berubah!!! (diiringi theme song Ksatria Baja Hitam)


berubah kapan? yaaaa.... besok deh! kapan-kapan kalo udah agak lowong... nanti kalo ada mood....


Wajar dong ah, kan kita nggak kerja di Pegadaian, jadi menyelesaikan masalah itu harus dengan masalah!
Lagipula menghindar itu bikin kita makin pinter kok!
Pinter bohong
Pinter ngilang
Pinter ngeles (iiihhh... bisa buka usaha bimbel dong :P)

Gue sendiri mengakui kalo gue masih suka menghindar. Menghindar itu memang sangat enak. Kita bisa terbebas dari masalah, perasaan nggak enak, pekerjaan berat. Walau cuma sesaat. Nanti kalo efeknya udah hilang ya cari lagi aktivitas menghindar yang bikin enak. Terus aja muter kayak gitu.

masalah - menghindar - senang - masalah nggak selesai - meenghindar lagi - senang lagi - masalah tambah besar - tambah menghindar - lagi lagi senang - masalah tambah makin besar - menghindar lagi dong ah - pokoknya senang dulu deh - masalah menggunung - mari menghindar - mari senang - ....
Dan terus akan seperti itu, sampai akhirnya sadar kalo masalah yang semula sebesar kepalan tangan sudah menggelinding sebesar pohon beringin. Waktu habis, tidak ada yang dicapai, malah akan muncul rasa hidup gue kok rasanya nggak bermakna gini yah.
Kayaknya gue emang nggak bisa ngapa-ngapain deh
Kayaknya hidup gue emang penuh masalah deh
Emang udah takdirnya
Ya udah lah, pasrah aja
(Terus menjalani hidup bagaikan hidup segan mati tak mau)



Dalam terapi aktivasi perilaku yang sedang gue teliti untuk tesis, dikenal istilah outside-in, yaitu memaksa untukbertindak atau melakukan sesuatu tanpa harus menunggu suasana hatiBila seringkali kita menunggu mood dulu, lowong dulu, ada temen dulu, dan beribu alasan yang lain untuk memulai, maka kita nggak akan pernah mulai. Setelah satu alasan basi, akan muncul berbagai alasan lain yang bagus untuk tidak memulai.

Jadi ingat dengan ucapan dosen multivariat saya,
"ada seribu alasan untuk tidak memulai, tapi hanya ada satu cara untuk memulai, yaitu LAKUKAN"


Tapi kan nggak gampang untuk memulai!
Kalau nanti gagal gimana?
Kalau nanti ribet gimana?
Kalau nanti salah gimana?


Mulai lah dengan hal kecil. Dengan berhasil menyelesaikan sedikit demi sedikit target kecil, lo akan merasa bangga dengan prestasi lo. Achieving something tastes good, right? :) (itulah kenapa jambu hasil nyolong rasanya lebih enak dari jambu di rumah yang dibeliin ortu. Perjuangan nyolongnya itu je! *ketauan deh waktu kecil suka nyolongin jambu tetangga :P*)


Rasa bangga itu juga akan membuat lo ngerasa oke sebagai manusia. Powerful. Meaningful. Beautiful #yeah

Lo akan punya kekuatan untuk menentukan arah hidup dan kebermaknaan lo sendiri :)

baja hitam nyolong jambu

Selasa, 24 September 2013

BFF part 1 : How I Met Your Uncle (Chiyar)

Selama beberapa bulan ini, gue baru mengalami suatu peristiwa besar yang sangat mengguncang hidup gue. Gue kehilangan bapak di tengah banyaknya rencana hidup yang melibatkan beliau. Kehilangan yang tiba-tiba ini membuat gue porak poranda dan sempat terasa kehilangan tempat berpijak. Di saat itulah, banyak orang; kalo kata anak gaul "BFF"; yang membantu gue menyusun kembali pondasi pijakan gue. Nggak salah kalo mereka menyandang predikat BFF.

They're more than friends. They're meant families to me :)

Jadi dalam beberapa postingan ke depan, gue ingin menceritakan tentang mereka. Semacam tribute to gitu.

Mereka bukan artis atau orang terkenal, tapi mereka adalah orang-orang yang berarti dalam hidup gue

Sesuai judul, pada post kali ini, gue akan menceritakan tentang tak lain dan tak bukan adalah "CHIYAR EDISON"
Kenapa dia duluan? Karena semalam gue baru nonton 2 episode terbaru How I Met Your Mother (HIMYM) season 9 (my fave tv series from the first time I watched it!) dan sosok Ted Mosby selalu selalu selaluuuuuuu mengingatkan gue akan Chiyar! Mereka punya banyak sekali kemiripan!

bukan kok, bukan kemiripan wajah. Josh Radnor tentu saja jauuuuuhhhh lebih ganteng! :D

    
si akang josh radnor yang bikin meleleh (marry me ajaaaaa, kang!!!)



Sedangkan ini lah dia penampakan si Chiyar Edison yang fenomenal cetar membahana dan mampu mengkudeta hati setiap wanita! (tapi bo'ong :P)

udah diupload poto yang paling cool nih! (aslinya mah sesuatuk) 


Jadi benerannya (kalo ceritanya berarti kan nggak beneran), doi ini bentar lagi mau ke Wales. Sebelum dia pergi, tentunya meminta restu dari gue dulu dong #meh, lalu kita bertemu deh untuk early farewell. Di tengah-tengah pembicaraan, gue dan dia ketawa ngakak pas inget lagi gimana awalnya kami bisa dekat. Awal mula gue kenal sama dia bermula dari labrakan gue pada dia yang nggak pada tempatnya. Penuh kesotoyan, kekeliruan, dan simpati membabi buta pada teman gue yang waktu itu adalah mantannya. Kalo diingat lagi, norak banget deh gue saat itu (yah, namanya juga darah muda #alasan)

Singkat cerita, bermula dari yang awalnya saling kesel nggak beralasan satu sama lain, gue dan dia malah jadi akrab. Mulai dari jalan-jalan, maksa nganterin, maksa ntraktir, chatting lewat berbagai media, dan curhat dari berbagai hal penting maupun nggak penting. Nggak terasa udah sekitar 5 tahun aja kami dekat (mulai sejak gue S1 semester 6an)

Banyak yang gosipin kami pacaran, "cie-cie" nggak berhenti, dan menunjukkan keheranan akan status hubungan kami. Gue pun juga heran. Dia adalah satu-satunya cowok non pacar, HTM, atau segala bentuk hubungan romantis lain, yang secara konstan berinteraksi hanya berdua dengan gue. Teman-teman cowok gue yang lain juga ada, tapi biasanya gue berinteraksi dengan mereka dalam kelompok, atau kalo pun berdua, ya nggak setiap saat. Dia ituuuu.... rasanya gimana ya? Menurut gue, ada cowok yang sedekat apapun kita, nggak ada keinginan untuk berhubungan romantis.

I fall for him as my brother (or lamp) *hahaha, friendzoned alert* :D

Sebagai cowok, doi sangat baik. Cewek biasa aja diperlakukan dengan sangat baik, gimana cewek yang dia suka? Pastinya lebih lebih dan lebiiiiihhhh...
Doi adalah cowok teromantis dan termasokis yang pernah gue tau. Such as a gooey romantic just like Ted Mosby. Kalau dengar cerita-cerita doi tentang pengalaman cintanya yang bikin gue seringkali geregetan-pengen-nyela, gue sangat berharap dia mendapatkan wanita yang memperlakukannya dengan penuh cinta #tsaaaahhh

He deserves woman who will treat him as well as he treat her

 Sayangnya, hingga kini wanita tersebut belum muncul. Dan doi akan kembali memulai cerita mengenai kisah asmaranya yang penuh friendzone, makan hati, dan diakhiri dengan ucapan andalan

"memang begitulah cinta, deritanya tak ada akhirnya" *Tie Pat Kay mode on*



Demikian halnya dengan Ted Mosby yang akhirnya menemukan "the mother" setelah perjuangan panjang (dan detail yang bikin geregetan selama 8 season), gue menutup post ini dengan doa agar Chiyar pun segera menemukan cintanya juga :)


"you'll meet her. She's coming to you as fast as she can" 


*masih nunggu update-an cerita sebelum doi benar-benar caw minggu depan*

Senin, 23 September 2013

Unfinished

"unfinished business"

Istilah itu sangat booming di kelas Magister Profesi UGM. Istilah yang menunjukkan sesuatu yang belum selesai, ngganjel, dan masih nggondelin itu dipopulerkan oleh Mak Bo, ketua Prodi.

Setiap orang pasti punya unfinished business. Bentuknya bisa macem-macem; utang yang belum juga dibayar, janji yang belum ditepati, konflik yang belum selesai, dendam terpendam (ya iyalah, dendam terpendam), kecewa yang berlarut, marah yang tak tersalurkan, patah hati yang tak kunjung move on, ijab yang tak kunjung sah *curcol*, tesis yang belum kelar *nangis di pojokan* #emberbocor

PASTI SEMUA ORANG PUNYA UNFINISHED BUSINESS!!!

Urusan yang belum beres ini ya harus diselesaikan, karena bisa terus ngikutin ke mana pun. Walau udah menghindar ke mana pun, kalo belum selesai ya akan terus menghantui

Terus gimana dong caranya menyelesaikan itu?

Yah, macam-macam sih caranya. Gue bukan orang yang ahli dalam membereskan unfinished business (wong gue aja masih banyak yg nggondelin), tapi mungkin ada beberapa hal yang bisa dilakukan, yaitu :

1. LUPA
Iyah, lupa. Menurut gue, lupa itu adalah anugerah Tuhan bagi manusia agar bisa menghapus memori buruk yang menghambat manusia tersebut mendapat ketenangan pikiran (okeh, gue lebay). Kayak di film "Eternal Sunshine of Spotless Mind". Lupa itu enak kan.

Tapi anehnya, kalo maksa buat lupa (atau pura-pura lupa) malah jadi tambah keingetan loh. Otak memang bekerja dengan cara yang misterius, hehehe


2. MEMBERIKAN KE ORANG LAIN
 Aneh? Nggak kok. Ini benar-benar berlaku bagi sebagian orang. Salah seorang teman sekelas gue pernah diperlakukan nggak enak sama temannya. Walaupun udah lebih dari dua tahun, perlakuan itu masih aja keingetan terus dan bikin sebel tiap kali inget. Suatu hari, temen gue ini melakukan perlakuan yang serupa pada orang lain. Terus aja dia bilang udah lega setelah melampiaskan itu ke orang lain. Orang lainnya dong yang jadi unfinished business? Ah, ya biarin aja *kabur* :D

3. MEMAAFKAN DAN MELEPASKAN
Nah, ini yang idealnya nih. Kita diminta untuk memaafkan dan melepaskan. Berdamai dengan diri kita sendiri. Karena ini ideal, susah banget jalaninnya. Bukan berarti nggak bisa loh. Bisa banget! Cuma harus siap menjalani proses penerimaan yang cukup berdarah-darah dan menguras air mata.



Gue punya unfinished business yang terbesar di antara yang lainnya. Menyangkut seorang pria yang pernah meninggalkan gue untuk perempuan lain dan menyebabkan kerusakan yang besar buat diri gue secara fisik, psikis, maupun materi. Bertahun-tahun gue membenci dia. Sampai-sampai gue berpikir ngapain Allah repot-repot menciptakan makhluk kayak dia?? Enaknya tuh digaplok aja pake sepatu biar mejret kayak kecoak.

Udah banyak cara gue lakukan untuk menyelesaikan urusan gue dengan dia. Dengan bantuan banyak orang juga. Entah kenapa masih aja ada rasa benci, walau kadarnya emang perlahan-lahan berkurang. Kalo dulu rasanya pengen nge-gaplok pake sepatu, belakangan ini ya cukup digampar pake wajan aja deh *lah, sami mawon*

Malam ini entah kenapa plong aja

Bermula dari gue yang melihat profil fesbuk teman kantor gue untuk nulis ucapan selamat ultah. Di timelinenya, gue ngeliat foto cowok yang kok kayaknya gue kenal. Gue klik lah tuh foto, daaaaannnnn.... ASTAGA NAGA! Gue kaget pas tau cowok tersebut ternyata adalah mantan gue yg udah berubah 180 derajat!!! Bodinya begitu melar dan maju (perutnya) sehingga sulit dikenali lagi.

Sontak gue ketawa. Ngakak. Lama lagi.

Dan seketika juga PLONG :) :) :)
(nggak ada lagi rasa benci, dongkol, jengkel, mangkel, marah, sebel, dkk)

Gue juga nggak ngerti kenapa. Terjadi begitu saja.


Temen gue sih bilangnya, "Lo kan ingetnya dia pas kurus. Pas dia gendut, lo udah nganggap dia orang lain"

Asosiasi banget sik! Berarti otak gue setara Dimitri yak? Mboh lah

Berarti ada cara keempat tuh buat membereskan urusan yang belum kelar

4. SURUH ORANG YANG BERSANGKUTAN BUAT NGEGENDUTIN ATAU NGURUSIN BADAN ATAU OPERASI PLASTIK SEKALIAN :D

Tentang Menunggu

MENUNGGU ITU NGGAK ENAK

Yup, sesuai dengan pernyataan yang gue nyatakan dengan lantang tersebut *contoh kalimat tidak efektif, hehe* , menunggu itu adalah hal yang paling tidak enak sedunia.

Kenapa bisa nggak enak?
Ya nggak enak pasti lah!
Karena saat menunggu itu kita berada dalam kondisi gamang. Antara pasti-tidak pasti, antara iya-tidak, antara selesai-belum, antara sukses-gagal, dan berbagai antara yang lain.

Sebagai manusia, kita membutuhkan yang namanya kepastian. Kalau dalam hierarki kebutuhan Maslow, kepastian ini masuk dalam kebutuhan akan rasa aman. Kebutuhan tersebut berada di posisi kedua setelah kebutuhan dasar (makan, minum, tidur) yang berarti tergolong penting-mendesak untuk dipenuhi.

Berada dalam ketidakpastian itu rasanya sesuatuk! Penuh dengan rasa bimbang, khawatir, gelisah, gundah gulana, dan selalu timbul kontroversi hati #korbanvickinisasi

bener nggak? bener kan! bener dong!

Mau menunggu hal yang menyenangkan atau nggak menyenangkan, rasanya sama! Pasti nggak tenang! Dan semakin lama waktu menunggu, makin intens pula rasa nggak tenangnya.

terus kenapa jadi bahas tentang nunggu sih, mon?

Karena saat ini gue juga masih nunggu, huhuhu... Menunggu suatu keputusan yang berpengaruh cukup besar dalam kehidupan gue. Masih kok, masih tentang lumutan nunggu dosen pembimbing gue! #alibi :P

kasih tau nggak yaaaa.... mau tau banget atau mau tau aje *kayak ada yg pengen tau* 

Baru aja gue dapat WA dari temen kuliah yg ngeluh kalo maagnya kambuhan selama periode nesis inih. Usut punya usut, ternyata si teman ini tak kunjung mendapatkan ijin dari instansi incerannya untuk ngambil data (seakan nggak cukup ya punya pembimbing yg hobinya bikin duduk lumutan depan kantor dan lari-lari mulu *curcol*). Stres lah si teman dan dampaknya ya kena lah lambungnya. Terselip ucapan, "kalo nggak dapat ijin ya udah, bilang aja dari awal" tapi ujung-ujungnya akan selalu muncul, "menurut kamu gimana?"

Padahal kalo mau mikir ya, udah 3 bulan'je doi nggak dikasih kejelasan boleh ambil data atau nggak. Kalo katanya orang sih, kayaknya itu penolakan nggak langsung. Kenapa juga nggak cari tempat lain ya kan?

KARENA MASIH NGAREP! Itulah alasannya!

Saat berada dalam posisi menunggu, kita berada dalam kondisi iya atau nggak. Saat itulah harapan yang paling mendominasi. Kita jadi bertanya-tanya apakah iya? apakah nggak? kalo nanti ditinggal malah iya gimana? kalo nanti udah ditungguin, ternyata nggak gimana? Harapan itu yang membuat kita terus menerka-nerka akhirnya akan seperti apa. Menerka itu menandakan kita nggak punya kontrol akan situasi tersebut. Padahal kontrol itulah yang membuat kita merasa aman. Tidak punya kontrol akan situasi dapat menimbulkan rasa rentan, lemah, nggak berdaya, dan bisa juga membuat kita merasa nggak oke dengan diri kita sendiri.

(Tiba-tiba ingat sesi ngobrol-ngobrol dengan beberapa napi saat jadi relawan di Cebongan dulu. Banyak sekali napi yang belum disidang yang susah tidur karena gelisah menunggu vonis. Ah, apa kabar mereka ya? Apakah penantian panjang tak bertepi mereka akhirnya menemukan ujungnya?)

Menunggu itu emang nggak enak, tapi nggak mungkin kan kita nggak nunggu apapun?


Iya iya, memang menunggu itu nggak enak, dan mustahil juga kita nggak nunggu. Banyak hal di dunia ini yang menuntut kita untuk menunggu. Lalu gimana? Ya, sabar.  Cuma itu satu-satunya hal yang bisa dilakukan selama menunggu.

Dan sabar itu membutuhkan keyakinan yang sangat besar. Semakin yakin, akan semakin sabar :)
(Sabar tingkat dewa bagai lagu "walau ke ujung dunia, pasti akan kutunggu.. walau ke ujung samudera, pasti akan kunanti" )

Ragu-ragu itu manusiawi. Keyakinan itu pun layaknya iman. Ada waktu di mana dia sangat tinggi kadarnya, namun juga ada saatnya terjun bebas. Butuh keyakinan yang senantiasa terjaga untuk mampu sabar menunggu.

Menurut gue, saat seseorang sedang berada dalam kondisi gelisah menunggu, sebenarnya orang tersebut sudah ada tendensi mau lanjut atau nggak. Pasti sudah ada kok timbangan pro dan kontra yang muncul dalam kepalanya. Sebenarnya orang tersebut hanya butuh penegasan untuk menguatkan keyakinan dan keputusan, yang secara sadar atau nggak, sudah diambilnya. Entah keputusan apa yang diambil, itu urusan lain ya.

Jadi kalau ada yang lagi bimbang, mungkin bisa ditanyain balik, "is it worth to wait?"


*catatan untuk diri sendiri : yakin itu nggak ada hubungannya dengan waktu, jarak, godaan, atau apapun, Saat dirimu memutuskan untuk yakin, yakinlah dengan segenap hatimu" :')

 lebih banyak gue curhatnya ini mah yak! (bodo amat, blog juga blog gue :P


Kangen Nulis

Hei hei hei, ini adalah post perdana di blog ini. Setelah blog pendahulu entah bagaimana nasibnya. Mungkin sudah penuh sarang laba-laba :P

Blog ini hanya akan berisi berbagai racauan, curhatan, dan pikiran-pikiran yang terlontar dari kepala seorang Mon-Mon. Segala hal random pastinya. Kangen banget untuk nulis! Blog ini dibuat karena gue kangen nulis. Udah. Itu aja. #cetekbanget

Semoga blog ini bisa sering-sering ditengok. Resolusi juga untuk diri sendiri, minimal harus posting tulisan seminggu sekali. Mengaktifkan kembali jalur koordinasi antara pikiran, mata, tangan, dan tentu saja hati :)

Jadi selamat menikmati! :D